Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Derai Air mata menganak sungai dari sumber mata hati yang terluka
Luka yang mengakut setelah tertangguhkan untuk waktu yang lama
Lama sudah air mata ini tak kunjung mengalir
Lama sudah air mata ini mengering
Mengeringnya air mata ini bukan disebabkan oleh seringnya mengalir
Tapi sumbernyalah yang mengering dan membatu oleh hati yang makin tak pernah tersentuh oleh luka dan kepreihan rasa
READ MORE -
Setumpuk pesan tersirat ketika luka mulai mengering
Pesan yang sebelumnya selalu terlontar
Dalam bahasa yang tidak verbal
Isyarat mata dan tindakan menjadi bahasa yang akrab engkau peragakan di dalam setiap nasehatmu
Sungguh pernah aku menangkapnya dengan sisa sisa sinyal keimanan dan intuisi yang semakin melemah
Namun sinyal itu terlalu lemah dan terus melemah sehingga tak sempat aku mengirim pesan balik sekedar mengatakan pesan itu telah aku baca dan telah aku mengerti
Kalaulah luka menjadi bagian dari episode episode sandiwara kehidupan
Aku ingin episode ini menjadi pelajaran dan sebuah batu loncatan maqam spiritualku
Aku ingin episode luka ini tidak menjadi episode terakhir dalam panggung kehidupanku
Aku ingin episode luka ini mempu memancarkan dan menguatkan sinyal sinyal keimanan dan intuisiku yang justru melemah pada episode episobe suka yang terhampar sebelumnya
Sesungguhnya sesudah kesulitan selalu ada pintu kemudahan yang terbuka
READ MORE -
Sahabatku……..
Hukum gerak materi telah mempertautkan raga kita
Sebagaimana Dzat yang menguasai kita mempertautkan kita dengan alam semesta ini
Sahabatku..
Kebersamaan kita dalam mengarungi alam materi ini mengkin sudah begitu jauh
Begitu jauhnya di mata kita
Sahabatku…..
Masih tergambar jelas dalam benakku sebuah sketsa peta yang kita proyeksikan bersama
Untuk sebuah perjalanan panjang kita mengarungi dunia materi ini
Sahabatku……
Samapai pada suatu titik dalam perjalanan kita
Aku merasa ada yang tertinggal dari diri kita
Yang kemudian mendorongku untuk mengajakmu kembali
Ke titik awal dari perjalanan kita untuk mengambil sesuatu yang tertinggal tersebut
Sahabatku……
Berbagai bujuk rayu retoris aku keluarkan untuk meyakinkanmu, tetapi
Semakin kuat doronganku semakin tegas pula bantahan yang kau tampilkan
Layaknya pegas yang mengeluarkan daya pantul yang lebih besar
Dibandingkan daya yang mendorongnya
Sahabatku……
Begitu dasyatnya penolakanmu, hingga kau tega mengklaim diriku
Sebagai pengkhianat, musuh dalam selimut ataupun sebagai
Aktor yang mencoba lari dari peran yang mesti dilakoninya.
READ MORE -
Ruang dan waktu relatif dalam gagasan Enstein
Selalu saja menjadi teka teki terdalam yang mengombangambingkan jiwaku
Konsepsi tentang idealismepun tergugat oleh relatifitas
Lalu adakah kebenaran universal itu
Yang mengikat setiap pandangan dalam satu kesatuan mutlak

Kemarin aku meletakkan setangkai mawar dan sebilah golok di atas sebuah pusara
Sebuah pusara yang menyimbolkan kehausan akan keabadian dan
Perlawanan atas kefanaan eksisensi diri
Dua rasa yang terasa terus menjadi asa dalam rasa

Bersemayam dalam ruang gelap nan sumpek
Terbelenggunya fisik diikuti dengan stagnasi gerak jiwa menuju kesempurnaan
Duhai jiwa jiwa yang suci nan abadi
Besuklah jiwaku yang dahaga ini

Perangkap perangkap materi; mengapa pula
Seringkali menjaring jiwa yang immateril
Jiwa yang mestinya menjadi panglima kehidupan karena merupakan duta Ilahi
Seringkali justru diperbudak oleh hawa nafsu yang merupakan instrumen iblis
READ MORE -
Hari itu….
Aku berdiri di tepi samudera
Terhampar di depanku luasnya samudera yang akan kuarungi
Riak-riak kecil dan hembusan angin sepoi-sepoi khas tepian
Menghadirkan kedamaian dan keindahan estetis

Hari itu….
Aku mengukur luasnya samudera sejauh mataku memandang
Terbayang di benakku akan kedamaian dan keindahan tak bertepi
Yang akan menjadi perjamuan jiwaku ketika aku berada di tengah samudera
Sebuah jolloro’ dengan dua dayung menjadi warisan teramat beharga bagiku

Hari itu….
Aku tak pernah berfikir akan dalamnya samudera
Tak pernah terlintas dalam benakku untuk meyelami kedalaman samudera
Berbagai misteri khas kedalaman menjadi rangkaian teka teki yang membingungkan
Kebingungan yang bermuara pada kegelisahan dan penderitaan

Hari ini….
Aku tengah menyelam dalam kedalaman samudera
Satu per satu teka teki mulai tersingkap
Yang memberikan rasa yang tak terdefenisikan olehku
Dua rasa yang paradoks seakan menyatu dalam satu rasa

Hari ini…
Seolah aku terlahir kembali dalam dunia yang begitu berbeda
Perbedaan yang ditimbulkan oleh sebuah paradigma yang bergeser
Sehingga apa yang dulunya kuanggap lara menjelma menjadi suka
Suka cita yang tidak dibarengi oleh tawa ataupun senyum kemenangan
Tapi dengan air mata dan keperihan rasa
READ MORE -
Dalam peraduanku kala hidup terasa diujung tanduk
Di atas sajadah yang mulai lapuk oleh lipatan xaman
Kubersimpuh padaMu memohon belas kasihmu yang tiada berbatas
Kepasrahan dan ketundukan sepenuh jiwa
Kupatrikan dalam diri yang teramat rapuh
Kelemahan itu sungguh adalah milikku
Kegelapan itu sungguh adalah ruangku
Kekosongan itu sungguh adalah jiwaku
Ketersesatan itu sungguh adalah perjalananku

Ya Allah penggenggam segenap jiwa dan kuasa Engkaulah yang telah menyematkan predikat khalifah di dadaku dan Engkau pulalah yang sepenuhnya berhak menanggalkannya.
READ MORE -
Terkungkung dan terpasung dalam kegelapan dan kesumpekan
Belenggu-belenggu yang membelit yang mengosongkan ruang gerak
Tatapan yang menerawang jauh menembus lapisan ruang dan waktu namun kosong
Benih pemberontakan yang terus tersemaikan
Meregangkan segenap otot dan menghimpun energi untuk mendobrak jeruji dan merengkuh kebebasan
Namun ... ...
penjara itu ternyata tak berjeruji
Penjara itu ternyata tak berpintu
Penjara itu ternyata ada dalam diriku
READ MORE -